INGIN MENGETAHUI BUDAYA DEDIJE ADA SEMUA TIPS DEDIJE ADA SEMUA DEDIJEGALE (SEMUA DISINI) SALAM PERTEMUAN DEDIJEGALE SEE U NEXT TIME DEDIJEGALE.COM GOOD BY * TERIMA KASIH TELAH BERKUNJUNG contakperson admin 082380027777 *

XTRA COMBO FLEX

Axis

KAZZA BAND

Contac Iklan

Contac Iklan
kausarin89@gmail.com............(contac -082380027777) )
Diberdayakan oleh Blogger.
free counters

Statistik dedijegale

Tampilkan postingan dengan label BUDAYA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label BUDAYA. Tampilkan semua postingan

upacara adat pernikahan di kayuagung (Morge9)

Written By Kausarin Amd on Jumat, 14 Agustus 2020 | Jumat, Agustus 14, 2020

dedijegale.com

 
Pembahasan masalah pernikahan atau perkawinan pada hakekatnya tidak terlepas dari permasalahan manusia pada umumnya. Manusia sebagai makhluk yang berbudaya menghadapi permasalahan yang kompleks mencakup berbagai aspek dalam kehidupannya. Di antara aspek-aspek tersebut adalah aspek kepercayaan atau agama, sosial, hukum, ekonomi, pendidikan, jasmani, rohani, dan lain sebagainya.
Sebagai suatu gejala yang universal diseluruh dunia, pernikahan atau perkawinan tersebut merupakan peristiwa penting yang dihadapi manusia dalam kehidupannya. Biasanya pernikahan dipandang sebagai peristiwa yang sangat sakral dalam kehidupan manusia yakni terjadinya perubahan remaja yang masih lajang menuju ke kehidupan berumah tangga atau berkeluarga.
Dengan pernikahan tersebut nantinya akan muncul berbagai fungsi lain dalam kehidupan kebudayaan dan masyarakat manusia seperti pemenuhan kebutuhan akan teman hidup, memenuhi kebutuhan akan harta, memberikan ketentuan hak dan kewajiban serta perlindungan kepada anak-anak hasil perkawinan.
Oleh karena itu, membahas suatu upacara tradisi tidak terlepas dengan konteks kebudayaan. Para Antropologi menyepakati bahwa tradisi, norma, kebiasaan dan adat istiadat merupakan bagian dari kebudayaan.
Kebudayaan mempunyai fungsi yang sangat besar bagi kehidupan manusia dan msyarakat, karena setiap manusia dalam masyarakat selalu melakukan kebiasaan-kebiasaan baik atau buruk bagi dirinya. Kebiasaan yang baik akan diakui dan dilakukan oleh orang lain, yang kemudian dijadikan sebagai dasar bagi hubungan antara orang-orang tertentu, sehingga tindakan itu menimbulkan norma-norma yang disebut sebagai adat istiadat.
Perihal adat pernikahan, yang mana didalamnya mengandung nilai-nilai, ciri-ciri kepribadian bahkan sampai hal filosofisnya, karena adat pernikahan akan tetap ada di dalam suatu masyarakat berbudaya. Walaupun dalam batasan waktu dan ruang akan mengalami perubahan-perubahan ia akan terus merupakan unsure budaya yang dihayati dari masa ke masa. Sebab utama ialah karena Adat dan Upacara Pernikahan, mengatur dan mengukuhkan suatu bentuk hubungan yang sangat esensial antara manusia yang berlainan jenis.
Apabila meninjau lebih luas dalam membandingkan antara upacara pernikahan agama dengan upacara pernikahan adat, maka tinjauan antara upacara pernikahan agama lebih sederhana. Menurut Islam dalam upacara pernikahan hanya terdiri dari tiga unsur utama, yaitu sighat (akad), wali nikah dan dua orang saksi, sedangkan upacara walimahan (perayaan pernikahan) sifatnya tidak wajib tapi sunnah.
Dalam upacara digunakan simbol-simbol serta tatakrama, sebagai warisan budaya yang tetap terpilih dan sampai saat ini masih diakui kegunaannya. Fenomena budaya yang masih dianggap sakral, agung, dan monumental, dapat digunakan dengan melihat sebuah upacara yang masih dianggap bernilai mempunyai keunikan-keunikan yang masih dilestarikan dalam masyarakat yang mempercayainya. Keunikan tersebut, salah satunya adalah upacara pernikahan adat.
Salah satu tujuan pernikahan menurut adat adalah untuk menjaga nama baik keluarga, pernikahan juga bertujuan untuk memperoleh keturunan. Keturunan adalah cukup penting dalam pembinaan kerukunan rumah tangga. Sehubungan dengan tradisi pernikahan dalam pandangan kultural yang melihat dari sisi kehidupan masyarakat dianggap sakral dalam menggunakan simbol-simbol yang secara kontinue dilakukan oleh masyarakat, maka dari kontinuitas ini dapat disimpulkan mengenai bentuk-bentuk perkawinan yang dilakukan oleh masyarakat. Salah satunya upacara pernikahan yang menarik adalah Upacara Adat Pernikahan Di Kecamatan Kota Kayuagung OKI Palembang Sumatera Selatan.
Di daerah Sumatra Selatan khususnya di Kota Kayuagung dikenal tiga bentuk dasar perkawinan, yaitu kawin begorok, kawin sepagi dan kawin mabang handak. Dari ketiga upacara pernikahan ini dalam tatacara pelaksanaanya ada yang mengalami perubahan yang menyesuaikan kebutuhan masyarakat setempat. Dalam masyarakat Kayuagung pada masa lampau dan yang sekarangpun masih ada meskipun pada kalangan tertentu, yaitu bentuk-bentu pernikahan yang hidup dan berkembang, sebagai suatau variasi, baik sebagai akibat ataupun karena keadaan yang bersangkutan, daerah Kayuagung juga masih memiliki kebudayaan khas dengan kebudayaan yang masih menggunakan simbol-simbol atau lambang-lambang yang merupakan warisan budaya dari generasi terdahulu dan berkembang hingga saat ini. Melihat fenomena keunikan dalam tradisi upacara pernikahan ini, mendorong penulis untuk menelitinya.
Kehidupan budaya masyarakat Kayuagung atau Morge Siwe masih tetap dilestarikan, hingga hal ini bisa diasumsikan bahwa tradisi tersebut masih mempunyai nilai-nilai sangat bernilai, dan berkembang dalam masyarakat dianut, dipatuhi serta diakui keberadaannya, walaupun didalam upacara adat pernikahan di Kayuagung ada mengalami perubahan.

B. Rumusan Masalah
Latar belakang masalah tersebut di atas menggambarkan bahwa adat, budaya atau pola pernikahan pada suatu masyarakat atau pada bangsa tidak terlepas dari adanya pengaruh budaya lingkungan dimana masayarakat tersebut berada. Maka Judul dari penelitian ini adalah “Adat dan Upacara Pernikahan Di Kecamatan Kota Kayuagung”.
Adapun rumusan masalah dalam penelitian ini dapatlah disusun permasalahan sebagai berikut:
1. Bagaimana bentuk-bentuk dan prosesi pelaksanaan adat upacara pernikahan di Kecamatan Kota Kayuagung ?
2. Mengapa terjadinya perubahan dalam prosesi upacara pernikahan dan apa makna dan nilai yang terkandung dalam simbol-simbol adat upacara pernikahan di Kecamatan Kota Kayuagung ?
3. Bagaiman pengaruh adat upacara pernikahan di Kecamatan Kota Kayuagung dalam masyarakat ?

C. Tujuan dan Kegunaan Penelitian
Sesuai dengan yang dipermasalahkan, sehungga penulis terdorong untuk mengadakan penelitian, maka tujuan penulisan skripsi inipun tidak jauh dari permasalahan itu.
1. Adapun tujuannya adalah:
Penelitian ini hendaknya mengungkap macam-macam bentuk upacara pernikahan yang ada baik itu prosesi sebelum dan sesudah pelaksanaan upacara pernikahan di Kecamatan Kota Kayuagung. Setelah itu penulis bisa mengetahui mengapa di dalam pelaksanaan upacara pernikahan ini ada yang mengalami perubahan dan bagaimana pengaruh dari ketiga upacara ini terhadap masyarakat setempat.
2. Mamfaat penelitian
Dari penelitian ini ada tiga mamfaat yang diharapkan.
Manambah khazanah pengetahuan tentang kebudayaan dan adat istiadat kota Kayauagung. Sebagai sumber data dan informasi tentang adat dan upacara pernikahan di Kecamatan Kota Kayuagung, untuk keperluan pelaksanaan kebijaksanaan kebudayaan, penelitian, penulisan lebih lanjut mengenai prosesi pernikahan di Kayuagung dan masyarakat.
Sebagai bahan dokumentasi yang diharapkan mampu memberikan sumbangan pemikiran secara tertulis demi perkembangan budaya yang ada di Kecamatan Kota Kayuagung.
Sebagai bahan untuk menambah pengetahuan di bidang kebudayaan, khususnya mengenai tradisi adat upacara pernikahan sehingga dapat digunakan bagi pembaca dan penulis sendiri.
D. Tinjauan Pustaka
Penelitian mengenai suatu adat upacara pernikahan memang bukan hal yang baru, tapi telah banyak dilakukan oleh beberapa kalangan seperti penulis buku, skripsi dan para sejarawan dan budayawan yang mengungkap tentang pernikahan, diantaranya adalah:
Pembina Adat Kabupaten Ogan Komering Ilir, Himpunan Adat Dan Sistem Upacara Adat Morge Siwe, (Kayuagung: 2002). Pembahasan di dalam buku ini berisi tentang hukum adat baik itu dari segi upacara tradisonal masa hamil, adat betorang (betunang), adat kematian, hukum waris dan masyarakat Kayuagung, di dalam buku ini juga membahas tentang adat perkawinan masyarakat Kayuagung, yang menjelaskan diantaranya bahwa dalam rangka melangsungkan upacara adat perkawinan menurut adat morge siwe atau Kayuagung terdiri dari beberapa tingkatan/golongan. Walaupun di dalam buku ini dijelaskan tingkatan tapi itu baru seidikit belum menyeluruh.
Ada juga tulisan tentang Adat Perkawinan Masyarakat Marga Kayuagung Kabupaten Ogan Komering Ilir, Propinsi Sumatera Selatan, yang di tulis oleh Iskandar Saleh,BA. Pembahasan di dalamnya tentang adat perkawinan masyarakat kayuagung, dari cara perkenalan, cara perkawinan dan upacara perkawinan. Akan tetapi di dalam buku ini belum dijelaskan bagaimana bentuk-bentuk atau macam-macam pernikahan yang dan di dalam tulisan ini juga belum nampak perspektif Islam dan pengaruhnya terhadap masyarakat.
Skripsi yang ditulis oleh “Ida Royani” mahasiswa fakultas Adab tahun 2001 yang berjudul Upacara Pernikahan Adat Kesepuhan Cirebon dalam Perpektif Islam dan Kultur. Tulisan ini mengungkapkan bagaimana upacara pernikahan yang ada di Keraton Kasepuhan Cirebon, dan peristiwa yang dianggap sangat ideal untuk menampilkan sosok “budaya lokal” yaitu upacara adat pernikahan di keraton dan bagaimana dalam pandangan Islam dan kultul.
Skripsi yang ditulis oleh “Yudhia Nusbaiti” mahasiswa fakultas antropologi UGM 1997 yang berjudul Perkawinan Di Pariaman Padang. Skripsi ini menjelaskan bagaiman disuatu daerah khususnya Pariaman dalam suatu pernikahan adat mengalami perubahan dalam pelaksanaan upacaranya. Penulis mengambil skripsi sebagai bahan acuan untuk mengungkap pernikahan adat di Kayuagung yang mengalami suatu perubahan.
Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan, Adat Dan Upacara Perkawinan Daerah Sumatra Selatan, (Jakarta: 1984). Di dalam buku ini berisi tentang prosesi (tahapan-tahapan) upacara adat sebelum perkawinan, upacara perkawinan, adat sesudah perkawinan. Selain itu juga di dalam buku ini membahas tentang bentuk-bentuk perkawinan yang ada di Sumatra Selatan, akan tetapi bukan di daerah Kayuagung yang akan menjadi lokasi penelitian bagi penulis. Bentuk-bentuk pernikahan di Palembang berbeda dengan di Kayuagung akan tetapi masih ada sedikit kemiripan saja.
Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan, Adat dan Upacara Perkawinan Daerah Lampung, (Jakarta: 1984). Seperti halnya dengan pembahasan buku di atas yaitu membahas tentang pelaksanaan upacara adat pernikahan dan bentuk-bentuk pernikahan. Dalam pelaksanaan upacara pernikahan di Lampung memang mempunyai kesamaan dengan pelaksanaan upacara pernikahan di Sumatra Selatan dan Kayuagung, akan tetapi pembahasan di buku ini hanya secara global.
Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan, Adat dan Upacara Perkawinan Daerah Kalimantan Timur, (Jakarta: 1984). Pembahasan dalam buku ini adalah tentang adat dan upacara perkawinan suku kutai, buku ini juga menjelaskan bagaimana bentuk-bentuk perkawinan yang ada di daerah Kal-Tim. Dijelaskan juga pernikahan yang ideal adalah dari lapisan yang sederajat atau berstatus social yang sederajat.

E. Landasan Teori
Yang dimaksudkan dengan adat pernikahan ialah segala adat kebiasaan yang dilazimkan dalam suatu masyarakat untuk mengatur masalah-masalah itu akan timbul sebelum ataupun sesudah perkawinan dilaksanakan. Masalah yang timbul sebelum suatu pernikahan disebut adat sebelum pernikahan, yang mengandung unsur-unsur antara lain: tujuan pernikahan menurut adat, pernikahan ideal, pembatasan jodoh, bentuk-bentuk pernikahan, syarat-syarat untuk nikah, dan cara memilih jodoh. Sedangkan masalah sesudah pernikahan disebut adat sesudah pernikahan yang mengandung unsur-unsur adat menetap sesudah nikah, dan yang lainnya.
Pada hakekatnya suatu upacara pernikahan itu hanya biasa saja, dan pada umumnya adat upacara pernikahan yang dilaksanakan oleh masyarakat setempat melalui suatu prosesi (tahapan-tahapan), beserta kelengkapan-kelengkapan upacara. Bentuk-bentuk pernikahan, prosesi dan kelengkapan-kelengkapan itu ada karena mempunyai maksud atau makna tersendiri. Sebagai contoh, pernikahan yang ada di Kayuagung mempunyai beberapa macam-macam uapacar pernikahan sebagai suatu variasi, baik sebagai akibat ataupun karena keadaan yang bersangkutan. Akan tetapi prosesi upacara pernikahan di Kayuagung sudah banyak mengalami perubahan secara perlahan-lahan, ini diakibatkan oleh suatu variasi, baik sebagai akibat ataupun karena keadaan yang bersangkutan.
Dengan adanya perubahan suatu budaya dan adat upacara pernikahan, di antaranya pada prosesi pelamaran yang masih kental akan nilai-nilai adat istiadat, kini acara pelamaran hanyalah sebuah formalitas sebagai pengukuhan, dan masih ada beberapa adat upacara pernikahan yang mengalami perubahan.
Secara teoritis perubahan kebudayaan berkaitan erat dengan perubahan pola kebutuhan masyarakat pendukung kebudayaan itu, yaitu kebutuhan biologis, sosiologis, dan psikologis, secara sederhana dapat dikatakan bahwa kebudayaan selalu berubah mengikuti perubahan yang terjadi pada kebutuhan hidup masyarakat, baik itu sendiri disebabkan oleh penetrasi kebudayaan luar kedalam kebuadayan sendiri atau karena terjadi orientasi baru dari kalangan intern masyarakat pendukung kebudayaan itu sendiri.
Selain itu agama sebagai salah satu bentuk system nilai yang dianut oleh masyarakat, dapat digunakan sebagai salah satu landasan masyarakat untuk melakukan pernikahan. Dengan kata lain tempat dalam studi ini bahwa agama merupakan pengesahan tindakan. Selain itu tidak menetap kemungkinan bahwa bukan hanya nila-nilai agama saja yang dijadikan landasan masyarakat, akan tetapi dapat dinyatakan juga bahwa pernikahan disini merupakan suatu tindakan sosial yang bagi masing-masing masyarakat memiliki tujuan dan alasan mengapa mereka melaksanakan.

F. Metode Penelitian
1. Pemilihan informan dan responden.
Untuk memperoleh data tentang penelitian ini, penulis mengambil lima orang responden dan tiga orang informan. Kelima orang-orang responden ini adalah orang-orang yang telah lama tinggal dan pernah mengikuti upacara pernikahan. Pemilihan responden ini berdasarkan usia, maksudnya responden telah mempunyai anak atau keponakan yang telah menikah, sehingga responden tahu betul tata-cara upacara tersebut. Adapun ketiga informan adalah orang yang hanya mengetahui adat pernikahan khususnya dan adat Kayuagung umumnya.
2. Teknik pengumpulan data
Untuk memperoleh data diperlukan cara, yaitu dengan menggunkaan wawancara. Agar wawancara dapat lebih terarah maka penulis menggunakan pedoman wawancara. Pedoman wawancara ini diajukan kepada informan dan responden yang mengetahui adat-istiadat Kayuagung khususnya tentang pernikahan. Agar wawancara tidak bersifat kaku maka penulis selingi dengan wawancara bersifat bebas.
Penelitian ini bersifat deskriptif yaitu penggambaran yang sebenarnya atau apa adanya sesuai dengan keterangan yang diperoleh dari responden dan informan. Untuk melengkapi data juga diperlukan buku-buku yang memmuat tentang kebudayaan dan pernikahan.
3. Analisis data
Data yang diperoleh dari hasil wawancara dianalisis dengan menggunakan teknik interpetif. Penelitian ini adalah studi mengenai kebudayaan, sehingga analisi merasuk ke dalam susunan objek itu, yakni kita mulai dengan penafsiran-penafsiran tentang apa yang disampaikan para informan kita, atau memikirkan apa yang mereka sampaiakan dan lantas menata itu semua (Geertz, 1992: 18-19). Setelah itu data terkumpul baik data wawancara informan maupun berbagai literature, langkah selanjutnya adalah menerka
Jumat, Agustus 14, 2020 | 0 komentar | Read More

Tentang asal usul NEGARA INDONESIA

Written By Kausarin Amd on Kamis, 07 Januari 2016 | Kamis, Januari 07, 2016

dedijegale.com

Jauh sebelum Proklamasi Kemerdekaan, nama Indonesia sudah berseliweran dalam berbagai aktivitas politik kaum pergerakan: rapat akbar, aksi massa, pawai, famplet, koran, pemogokan, risalah-risalah, dan lain sebagainya.
Kapan nama Indonesia pertamakali dipergunakan? Siapa sang penemunya? Dan bagaimana nama tersebut diadopsi menjadi nama sebuah nation dan negara? Mungkin diantara kita masih ada yang belum mengetahuinya. Maklum, pelajaran sejarah di sekolah-sekolah tidak begitu serius memberitahu kita.
Padahal, seperti yang dikutip dari goodnewsfromindonesia.org, mengenal sejarah bangsa itu penting. Apalagi sejarah nama bangsa dan negara kita. Ingat, Pramoedya Ananta Toer, sastrawan terkemuka Indonesia yang banyak menulis novel sejarah, pernah bilang: “Kalau orang tak tahu sejarah bangsanya sendiri –tanah airnya sendiri– gampang jadi orang asing di antara bangsa sendiri.”

1. Nama “Indonesia” pertamakali muncul di tahun 1850, di sebuah majalah ilmiah tahunan, Journal of the Indian Archipelago and Eastern Asia (JIAEA), yang terbit di Singapura. Penemunya adalah dua orang Inggris: James Richardson Logan dan George Samuel Windsor Earl. Saat itu, nama Hindia—nama wilayah kita saat itu—sering tertukar dengan nama tempat lain. Karena itu, keduanya berpikir, daerah jajahan Belanda ini perlu diberi nama tersendiri. Earl mengusulkan dua nama: Indunesia atau Malayunesia. Earl sendiri memilih Malayunesia. Sedangkan Logan yang memilih nama Indunesia. Belakangan, Logan mengganti huruf “u” dari nama tersebut menjadi “o”. Jadilah: INDONESIA.

2. Nama Indonesia kemudian dipopulerkan oleh seorang etnolog Jerman, Adolf Bastian. Dia mempopulerkan nama Indonesia melalui bukunya, Indonesien Oder Die Inseln Des Malayischen Archipelsdan Die Volkev des Ostl Asien. Bastian sendiri mengunjungi Indonesia empat kali. Di bukunya, Bastian menggunakan kata Indonesia untuk merujuk pulau besar—Jawa, Sumatera, Borneo (Kalimantan), Celebes (Sulawesi), Molukken (Maluku), Timor, hingga Flores—dan gugusan pulau-pulau yang mengitari pulau tersebut.

3. Penjajah Eropa, baik Belanda maupun Portugis, menamai negeri kita ini: India. Namun, agar tidak sama dengan nama India, maka ditambahi huruf ‘H’ di depannya menjadi: Hindia. Di bawah penjajahan Belanda, negeri kita disebut Nederlandsch-Indie, yang berarti ‘Hindia kepunyaan Belanda’. Di bawah penjajahan Portugis, namanya ‘Hindia kepunyaan Portugis’. (Pramoedya Ananta Toer, Angkatan Muda Sekarang, 1999).

4. Tahun 1913, Soewardi Soerjaningrat alias Ki Hajar Dewantara mendirikan Kantor Berita untuk bumiputera di Den Haag, belanda. Namanya: Indonesische Persbureau, disingkat IP. Saat itu Ki Hajar sedang menjalani pembuangan di negeri Belanda akibat aktivitas politiknya di tanah air.

5. Sebelumnya, di tahun 1912, Ki Hajar bersama dua kawannya, Ernest Douwes Dekker dan Tjipto Mangkukusumo, mendirikan partai politik bernama Indische Partij (IP). IP merupakan organisasi politik pertama yang terang-terangan memperjuangkan kemerdekaan Hindia—terpisah dari kolonialisme Belanda. Saat itu, IP mengusulkan agar nama negeri kita ini adalah Hindia. Slogan IP yang terkenal: Hindia untuk Hindia! Sayang, usulan IP ini kurang berterima luas di kalangan kaum pergerakan.

6. Pada bulan Februari 1922, para pelajar Indonesia di negeri Belanda sepakat mengadopsi nama Indonesia. Mereka mengubah nama organisasinya dari Indische Vereeniging menjadi Indonesische Vereeniging. Kemudian, di tahun 1924, koran organisasi ini, Hindia Poetra, berganti nama menjadi Indonesia Merdeka. Setahun kemudian, giliran namaIndonesische Vereeniging resmi diubah menjadi Perhimpunan Indonesia (PI).

7. Di tanah air, organisasi politik yang pertama sekali menggunakan nama Indonesia adalah Partai Komunis Indonesia (PKI). Itu terjadi pada tahun 1924. PKI sendiri berdiri tanggal 23 Mei 1920, dengan nama Perserikatan Komunis Hindia. Baru pada bulan Juni l924, melalui sebuah Kongres di Weltevreden, Perserikatan Komunis Hindia berganti nama menjadi Partai Komunis Indonesia.

8. Pada tahun 1927, Soekarno bersama Tjipto Mangunkusumo serta kawan-kawannya di Algemene Studieclub mendirikan gerakan politik nasionalis bernama Perserikatan Nasional Indonesia (PNI). Setahun kemudian, Perserikatan Nasional Indonesia berganti nama menjadi Partai Nasional Indonesia (PNI). Soekarno dan PNI punya kontribusi besar dalam mempopulerkan nama Indonesia di kalangan rakyat jelata: petani, buruh, dan kaum melarat lainnya.

9. Pada tahun 1928, Kongres Pemuda Indonesia ke-2 mengikrarkan ‘satu nusa, satu bangsa, dan satu bahasa: INDONESIA”. Sejak itulah Indonesia sebagai nama dari sebuah negeri yang diperjuangkan makin berterima luas di kalangan kaum pergerakan dan rakyat banyak. Dua tahun sebelumnya, Wage Rudolf Supratman menciptakan lagu berjudul “Indonees, Indonees”, yang kemudian di tahun 1944 diubah menjadi “Indonesia Raya”. Lagu itu diperdengarkan tanpa lirik oleh WR Soepratman di Kongres Pemuda Indonesia ke-2 di gedung Indonesische Clubgebouw, Jalan Kramat Raya 106, Jakarta, tahun 1928. Sejak itulah cita-cita “Indonesia Raya” bergema di hampir semua pulau-pulau sepanjang Semenanjung Malaya hingga Papua. Tahun 1937, di Malaya (sekarang Malaysia), berdiri organisasi nasional bernama Kesatuan Melayu Muda (KMM). Dalam programnya, KMM menyatakan ingin mempersatukan Malaya ke dalam satu ikatan dengan ‘Indonesia Raya’.

10. Tetapi Pramoedya Ananta Toer kurang setuju dengan nama Indonesia. Menurutnya, penggunaan nama itu kurang politis dan ahistoris. Kata Pram, Indonesia berarti kepulauan India; belum keluar dari cara kolonialis menamai negeri kita. Pram sendiri mengusulkan dua nama yang dilahirkan oleh sejarah bangsa ini, yaitu Nusantara dan Dipantara. Nusantara muncul semasa dengan Majapahit, yang berarti: kepulauan Antara (dua benua). Sedangkan Dipantara muncul di era Singasari, yang berarti: Benteng Antara (dua benua).
Kamis, Januari 07, 2016 | 0 komentar | Read More

Upacara Kematian Bernilai Milyaran Rupiah Dari Tanah Air

Written By Kausarin Amd on Rabu, 28 Januari 2015 | Rabu, Januari 28, 2015

dedijegale.com


Ketidakpastian akan misteri kehidupan setelah mati, menciptakan kekhawatiran akan nasib si mati di alam baka. Di dataran tinggi Tana Toraja, Provinsi Sulawesi Selatan, upaya untuk menguak misteri itu telah menciptakan sebuah prosesi religius yang begitu rumit, kompleks, dan memakan banyak tenaga serta biaya. Masyarakat Toraja menyebutnya dengan Upacara Rambu Solok.

Ritual itu dikenal sebagai upacara pengantar jenazah seseorang ke penguburan.

Meski hanya sebuah ritual kematian, penyelenggaraan upacara itu layaknya sebuah pesta besar. Sebab, puluhan ekor kerbau dan babi mesti dikorbankan dengan melibatkan massa secara kolosal dan membutuhkan dana puluhan hingga ratusan juta bahkan milyaran rupiah.

Jika mengikuti tata cara Aluk To Dolo, upacara Rambu Solok sebenarnya adalah upacara yang rumit dan kompleks. Namun, sejak masuknya agama Kristen, Katolik, dan Islam, beberapa bagian prosesi telah dihilangkan. Kini, secara umum, ada empat bagian prosesi yang masih terus dilakukan, yaitu Mapalao, penerimaan tamu, penyembelihan kerbau, dan penguburan.

Upacara Mapalao adalah ritual untuk membawa jenazah ke pusat prosesi, yaitu di rumah adat Tongkonan. Mapalao dilakukan dengan mengarak keranda jenazah dari rumah tinggal menuju Tongkonan keluarga. Di sanalah, jenazah disemayamkan sementara waktu di sebuah Lakean yang terletak di ujung Tongkonan.

Usai upacara Mapalao, keluarga menerima kedatangan para tamu untuk memberi penghormatan terakhir kepada almarhum. Bunyi lesung yang ditabuh sejumlah wanita menjadi pertanda ada tamu yang datang.

Para tamu datang dalam kelompok-kelompok keluarga dengan membawa hewan seperti kerbau dan babi untuk disumbangkan. Setiap kali rombongan tamu tiba, tuan rumah segera membawa mereka ke Lantang dan menyediakan hidangan. Di saat yang sama, alunan kidung kesedihan dari penari Renteng sengaja dilantunkan untuk menggambarkan sejarah hidup almarhum.

Proses yang agak rumit terjadi saat upacara penyembelihan kerbau. Sebab, hewan yang telah diterima keluarga, baik dari sumbangan maupun keluarga sendiri akan dihitung oleh panitia yang terdiri dari keluarga, aparat desa, dan masyarakat adat. Dalam proses ini, sering terjadi negosiasi yang alot.

Terkadang, protes datang karena ketakpuasan soal jumlah kerbau yang harus disembelih. Namun, kesepakatan akhir tetap harus terjadi, tak peduli proses negosiasi berakhir dengan protes. Di depan Tongkonan dan keranda jenazah, satu demi satu tebasan pedang para penjagal mengakhiri ajal sang kerbau.

Setelah semua rangkaian upacara telah dilewati maka saatnya dilakukan penguburan. Masyarakat Toraja mempunyai tradisi unik dalam mengubur orang yang telah mati. Penguburan tak dilakukan di tanah, tapi di goa-goa alam yang terletak di tebing-tebing pegunungan. Bahkan, mereka meyakini bahwa semakin menantang proses penguburan maka semakin tinggi pula derajat keluarga yang meninggal.

Akhirnya, sebuah prosesi penguburan yang sangat berbahaya dilakukan. Mulai dari kelincahan, keberanian, serta dorongan keyakinan spiritual. Terkadang, nyawa harus dipertaruhkan dalam proses penguburan ini. Semuanya dilakukan dengan penuh keyakinan bahwa yang diperbuat akan membahagiakan leluhur yang telah meninggal.

Rombongan keluarga besar dan jenazah memasuki rante di Tongkonan Tombang, Tosapan, Kecamatan Makale, tempat terakhir almarhumah disemayamkan. Jarak yang ditempuh sekitar tiga kilometer.


Jenazah dibawa ke lakkean, tempat khusus selama upacara berlangsung, dan foto almarhumah dengan berbagai dekorasi hitam dan merah.




Babi pun diboyong ke rante untuk dipotong dan dibagi-bagikan.


Adu kerbau ikut mewarnai rangkaian upacara. Orang sering bertaruh uang dalam atraksi adu kerbau ini.
Kerbau Belang ( Tedong Bonga) yang harganya paling murah 150 juta rupiah turut disembelih

Kerbau yang disembelih dengan cara berdiri.




Daging yang dilemparkan ke berbagai arah penjuru angin, menandakan penghormatan ke seluruh wilayah tongkonan.




Ma'badong, tarian khas dalam upacara rambu solok, membuat penarinya terhanyut dalam suasana ritual


Bagaimana pun, rambu solok telah menjadi fenomena dalam kehidupan masyarakat, bahkan tidak jarang melahirkan sikap pro dan kontra. Pada satu sisi budaya ini dianggap positif. Bukan hanya dalam rangka melestarikan adat istiadat dan tradisi, tapi juga berdampak pada kehidupan keseharian masyarakat, terutama dengan kebersamaan dan kerjasama warga.

Belum lagi jika dikaitkan dengan pengembangan sektor pariwisata, karena tradisi ini dianggap sebagai salah satu sektor unggulan dan sangat potensial mendatangkan wisatawan, baik domestik maupun mancanegara.

Di sisi lain, kritik terhadap pelaksanaan pesta ini juga mulai berkembang. Penggunaan dana yang terkadang mencapai angka puluhan miliar dinilai oleh sebagian kalangan telah di ambang batas kewajaran, dan menciptakan budaya boros bagi masyarakat. Untuk sebagian warga, biaya pelaksanaan pesta rambu solok akan terasa sangat besar dan menjadi beban bagi mereka.

Meski demikian, mereka tetap harus melaksanakannya, dalam rangka menjaga gengsi dan popularitas. Belum lagi kewajiban untuk membayar utang bagi mereka yang telah membantunya saat pelaksanaan pesta.

Pro-kontra terhadap pelaksanaan ritual ini tentunya harus bisa disikapi secara bijak. Sebagai sebuah tradisi yang telah menjadi aset daerah tentunya kita tidak ingin budaya ini hilang. Oleh karena itu, diperlukan upaya yang sungguh-sungguh dari segenap elemen dan pelaku pembangunan untuk menemukan formula efektif dan menguntungkan.

Di tingkat masyarakat perlu terbangun kesadaran bahwa pelaksanaan pesta yang berlebihan akan lebih banyak berimplikasi negatif dibandingkan positifnya.
Rabu, Januari 28, 2015 | 0 komentar | Read More

Teknologi Kuno Bangsa Indonesia yang Canggih

Written By Kausarin Amd on Jumat, 13 September 2013 | Jumat, September 13, 2013

dedijegale.com

Mau tahu teknologi bangsa indonesia pada jaman dahulikala yang masih tetap ada hinga kini, simak 10 Teknologi Kuno Bangsa Indonesia yang Canggih berikut ini, dikutip dari palingseru.com

1. Borobudur

Bukti kecanggihan teknologi dan arsitektur adalah Borobudur,  candi yang diperkirakan mulai dibangun sekitar 824 M oleh Raja Mataram bernama Samaratungga dari wangsa Syailendra. Borobudur merupakan bangunan candi yang sangat megah. Tidak dapat dibayangkan bagaimana nenek moyang kita membangun Borobudur yang demikian berat dapat berdiri kokoh dengan tanpa perlu memakukan ratusan paku bumi untuk mengokohkan pondasinya, tak terbayangkan pula bagaimana batu-batu yang membentuk Borobudur itu dibentuk dan diangkut ke area pembangunan di atas bukit.
Bahkan dengan kecanggihan yang ada pada masa kini, sulit membangun sebuah candi yang mampu menyamai candi Borobudur. Borobudur juga mengadopsi Konsep Fraktal. Fraktal adalah bentuk geometris yang memiliki elemen-elemen yang mirip dengan bentuknya secara keseluruhan. Candi borobudur sendiri adalah stupa raksasa yang di dalamnya terdiri dari stupa-stupa lain yang lebih kecil. Arsitektur yang keren bukan?

2. Kapal Jung Jawa

Teknologi kapal raksasa Jauh sebelum Cheng Ho dan Columbus, para penjelajah laut Nusantara sudah melintasi sepertiga bola dunia. Meskipun sejak 500 tahun sebelum Masehi orang-orang China sudah mengembangkan beragam jenis kapal dalam berbagai ukuran, hingga abad VII kecil sekali peran kapal China dalam pelayaran laut lepas.
Dalam catatan perjalanan keagamaan I-Tsing (671-695 M) dari Kanton ke Perguruan Nalanda di India Selatan disebutkan bahwa ia menggunakan kapal Sriwijaya, negeri yang ketika itu menguasai lalu lintas pelayaran di ”Laut Selatan”. Pelaut Portugis yang menjelajahi samudera pada pertengahan abad ke-16 Diego de Couto dalam buku Da Asia, terbit tahun 1645 menyebutkan, orang Jawa lebih dulu berlayar sampai ke Tanjung Harapan, Afrika, dan Madagaskar.
Ia mendapati penduduk Tanjung Harapan awal abad ke-16 berkulit cokelat seperti orang Jawa. ‘Mereka mengaku keturunan Jawa,’ kata Couto, sebagaimana dikutip Anthony Reid dalam buku Sejarah Modern Awal Asia Tenggara. Berdasarkan relief kapal di Candi Borobudur membuktikan bahwa sejak dulu nenek moyang kita telah menguasai teknik pembuatan kapal.
Kapal Borobudur telah memainkan peran utama dalam segala hal dalam bahasa Jawa pelayaran, selama ratusan tahun sebelum abad ke-13. Memasuki abad ke-8 awal, kapal Borobudur digeser oleh Jung besar Jawa, dengan tiga atau empat layar sebagai Jung. Kata ‘Jung’ digunakan pertama kali dalam perjalanan biksu Odrico jurnal, Jonhan de Marignolli, dan Ibn Battuta berlayar ke Nusantara, awal abad ke-14.
Mereka memuji kehebatan kapal Jawa raksasa sebagai penguasa laut Asia Tenggara. Teknologi pembuatan Jung tak jauh berbeda dari karya kapal Borobudur; seluruh badan kapal dibangun tanpa menggunakan paku. Disebutkan, jung Nusantara memiliki empat tiang layar, terbuat dari papan berlapis empat serta mampu menahan tembakan meriam kapal-kapal Portugis. Bobot jung rata-rata sekitar 600 ton, melebihi kapal perang Portugis. Jung terbesar dari Kerajaan Demak bobotnya mencapai 1.000 ton yang digunakan sebagai pengangkut pasukan Nusantara untuk menyerang armada Portugis di Malaka pada 1513.

3. Keris

Kecanggihan teknologi penempaan logam Teknologi logam sudah lama berkembang sejak awal masehi di nusantara. Para empu sudah mengenal berbagai kualitas kekerasan logam. Keris memiliki teknologi penempaan besi yang luar biasa untuk ukuran masyarakat di masa lampau. Keris dibuat dengan teknik penempaan, bukan dicor. Teknik penempaan disertai pelipatan berguna untuk mencari kemurniaan besi, yang mana pada waktu itu bahan-bahan besi masih komposit dengan materi-materi alam lainnya. Keris yang mulanya dari lembaran besi yang dilipat-lipat hingga kadang sampai ribuan kali lipatan sepertinya akan tetap senilai dengan prosesnya yang unik, menarik dan sulit.
Perkembangan teknologi tempa tersebut mampu menciptakan satu teknik tempa Tosan Aji ( Tosan = besi, Aji = berharga). Pemilihan akan batu meteorit yang mengandung unsur titanium sebagai bahan keris, juga merupakan penemuan nenek moyang kita yang mengagumkan. Titanium lebih dikenal sebagai bahan terbaik untuk membuat keris karena sifatnya ringan namun sangat kuat. Kesulitan dalam membuat keris dari bahan titanium adalah titik leburnya yang mencapai 60 ribu derajat celcius, jauh dari titik lebur besi, baja atau nikel yang berkisar 10 ribu derajat celcius. Titanium ternyata memiliki banyak keunggulan dibandingkan jenis unsur logam lainnya. Unsur titanium itu keras, kuat, ringan, tahan panas, dan juga tahan karat. Unsur logam titanium baru ditemukan sebagai unsur logam mandiri pada sekitar tahun 1940, dan logam yang kekerasannya melebihi baja namun jauh lebih ringan dari besi.

4. Benteng Keraton Buton

Arsitektur bangunan untuk pertahanan Di Buton, Sulawesi Tenggara ada Benteng yang dibangun di atas bukit seluas kurang lebih 20,7 hektar. Benteng yang merupakan bekas ibukota Kesultanan Buton ini memiliki bentuk arsitek yang cukup unik, terbuat dari batu kapur. Benteng yang berbentuk lingkaran ini memiliki panjang keliling 2.740 meter. Benteng ini memiliki 12 pintu gerbang dan 16 pos jaga / kubu pertahanan (bastion) yang dalam bahasa setempat disebut baluara. Tiap pintu gerbang (lawa) dan baluara dikawal 4-6 meriam. Jumlah meriam seluruhnya 52 buah. Pada pojok kanan sebelah selatan terdapat godana-oba (gudang mesiu) dan gudang peluru di sebelah kiri. Letaknya pada puncak bukit yang cukup tinggi dengan lereng yang cukup terjal memungkinkan tempat ini sebagai tempat pertahanan terbaik di zamannya.

5. Si Gale gale

Teknologi Robot tradisional Nusantara Orang Toba Batak Sumatra utara pada zaman dahulu sudah bisa membuat robot tradisional yang dikenal dengan sebutan si gale-gale. Boneka ini menguasai sistem kompleks tali yang dibuat sedemikian rupa. Melalui tali yang ditarik ulur inilah boneka itu dapat membungkuk dan menggerakan “tangannya” sebagai mana layaknya orang menari. Menurut cerita, Seorang Raja dari Suku Karo di Samosir membuat patung dari kayu untuk mengenang anak satu-satunya yang meninggal dunia. Patung kayu tersebut dapat menari-nari yang digerakkan oleh beberapa orang.
Sigale – gale dimainkan dengan iringan musik tradisional khas Batak. Boneka yang tingginya mencapai satu setengah meter tersebut diberi kostum tradisional Batak. Bahkan semua gerak-geriknya yang muncul selama pertunjukan menciptakan kesan-kesan dari contoh model manusia. Kepalanya bisa diputar ke samping kanan dan kiri, mata dan lidahnya dapat bergerak, kedua tangan bergerak seperti tangan-tangan manusia yang menari serta dapat menurunkan badannya lebih rendah seperti jongkok waktu menari. Si gale-gale merupakan bukti bahwa nenek moyang kita sudah dapat membuat boneka mekanikal atau robot walau dalam bentuk yang sederhana. Robot tersebut diciptakan untuk dapat meniru gerakan manusia.

6. Pengindelan Danau Tasikardi, Banten

Kecanggihan Teknologi Penjernihan Air Nenek moyang kita ternyata sudah mengembangkan teknologi penyaringan air bersih. Sekitar abad ke16-17 Kesultanan Banten telah membangun Bangunan penjernih air untuk menyaring air yang berasal dari Waduk Tasikardi ke Keraton Surosowan. Proses penjernihannya tergolong sudah maju. Sebelum masuk ke Surosowan, air yang kotor dan keruh dari Tasik Ardi disalurkan dan disaring melalui tiga bangunan bernama Pengindelan Putih, Abang, dan Emas. Di tiap pengindelan ini, air diproses dengan mengendapkan dan menyaring kotoran.
Air selanjutnya mengalir ke Surosowan lewat serangkaian pipa panjang yang terbuat dari tanah liat dengan diameter kurang lebih 40 cm. Terlihat sekali bahwa pada masa tersebut sudah mampu menguasai teknologi pengolahan air keruh menjadi air layak pakai. Danau Tasik Ardi sendiri merupakan danau buatan.
Sebagai situs sejarah, keberadaan danau ini adalah bukti kegemilangan peradaban Kesultanan Banten pada masa lalu. Untuk ukuran saat itu, membuat waduk atau danau buatan untuk mengairi areal pertanian dan memenuhi kebutuhan pasokan air bagi penduduk merupakan terobosan yang cemerlang

7. Karinding

Teknologi pengusir hama dengan gelombang suara Alat musik dari Sunda ini terbuat dari pelepah kawung atau bambu berukuran 20 x 1 cm yang dipotong menjadi tiga bagian yaitu bagian jarum tempat keluarnya nada (disebut cecet ucing atau ekor kucing), pembatas jarum, dan bagian ujung yang disebut panenggeul (pemukul). Jika bagian panenggeul dipukul, maka bagian jarum akan bergetar dan ketika dirapatkan ke rongga mulut, maka akan menghasilkan bunyi yang khas. Alat ini bukan cuma untuk menghibur tapi juga ternyata berfungsi mengusir hama di kebun atau di ladang pertanian.
Suara yang dihasilkan oleh karinding ternyata menghasilkan gelombang low decibel yang menyakitkan hama sehingga mereka menjauhi ladang pertanian. Frekuensi suara yang dikeluarkan oleh alat musik tersebut menyakitkan bagi hama tersebut, atau bisa dikatakan frekuensi suaranya melebihi dari rentang frekuensi suara hama tersebut, sehingga hama tersebut akan panik dan terganggu konsentrasinya.

8. Rumah Gadang

Arsitektur Rumah Aman Gempa Para nenek moyang orang Minang ternyata berpikiran futuristik alias jauh maju melampaui zamannya dalam membangun rumah. Konstruksi rumah gadang ternyata telah dirancang untuk menahan gempuran gempa bumi. Rumah gadang di Sumatera Barat membuktikan ketangguhan rekayasa konstruksi yang memiliki daya lentur dan soliditas saat terjadi guncangan gempa hingga berkekuatan di atas 8 skala richter. Bentuk rumah gadang membuat Rumah Gadang tetap stabil menerima guncangan dari bumi. Getaran yang datang dari tanah terhadap bangunan terdistribusi ke semua bangunan. Rumah gadang tidak menggunakan paku sebagai pengikat, tetapi berupa pasak sebagai sambungan membuat bangunan memiliki sifat sangat lentur.
Selain itu kaki atau tiang bangunan bagian bawah tidak pernah menyentuh bumi atau tanah. Tapak tiang dialas dengan batu sandi. Batu ini berfungsi sebagai peredam getaran gelombang dari tanah, sehingga tidak mempengaruhi bangunan di atasnya. Kalau ada getaran gempa bumi, Rumah Gadang hanya akan berayun atau bergoyang mengikuti gelombang yang ditimbulkan getaran tersebut Darmansyah, ahli konstruksi dari Lembaga Penanggulangan Bencana Alam, Sumatera Barat menyebutkan, dari sisi ilmu konstruksi bangunan rumah gadang jauh lebih maju setidaknya 300 tahun dibanding konstruksi yang ada di dunia pada zamannya.

9. Tempe

Pemanfaatan bioteknologi untuk makanan Tempe merupakan hasil bioteknologi sederhana khas Indonesia. Nenek moyang bangsa Indonesia telah menggunakan Rhizopus untuk membuat tempe dari kedelai. Semua ini adalah penggunaan mikroba atau mikroorganisme pada tingkat sel untuk tujuan pangan. Sebenarnya mengolah kedelai dengan ragi juga dilakukan di negara lain seperti China, Jepang, India, dll. Tetapi yang menggunakan Rhizopus hanya di Indonesia saja. Jadi kemampuan membuat tempe kedelai adalah penemuan orang Indonesia. Tempe sudah dikenal sejak berabad-abad lalu di Nusantara. Dalam bab 3 dan bab 12 manuskrip Serat Centhini dengan seting Jawa abad ke-16 telah ditemukan kata ‘tempe’. Kini, tempe sudah merambah manca negara, tidak saja karena rasa dan aromanya, namun juga karena kandungan gizinya. Penemuan tempe adalah sumbangan nenek moyang kita pada seni masak dunia.

10. Pranata Mangsa

Sistem penanggalan musim bukti kepandaian ilmu astronomi nenek moyang kita Seperti kebudayaan-kebudayaan lain di dunia, masyarakat asli Indonesia sudah sejak lama menaruh perhatian pada langit. Pengamatan langit digunakan dalam pertanian dan pelayaran. Dalam masyarakat Jawa dikenal pranatamangsa, yaitu peramalan musim berdasarkan gejala-gejala alam, dan umumnya berhubungan dengan tata letak bintang di langit. Menurut Daldjoeni di bukunya ‘Penanggalan Pertanian Jawa Pranata Mangsa’, Pranata Mangsa tergolong penemuan brilian.
Kompleksitasnya tak kalah bobot dari sistem penanggalan yang ditemukan bangsa Mesir Kuno, China, Maya, dan Burma. Lebih-lebih jika dibandingkan dengan model Farming Almanac ala Amerika, Pranata Mangsa jauh lebih maju. Meskipun teknologi sudah semakin canggih seperti sekarang ini, penerapan perhitungan pranata mangsa masih relevan. Hal itu dikarenakan nenek moyang kita dulu mempelajari gejala-gejala alam seperti musim hujan/kemarau, musim tanaman berbunga/berbuah, posisi rasi bintang, pengaruh bulan purnama, dan sebagainya. Dengan mempelajari gejala-gejala alam tersebut nenek moyang kita dapat lebih menghargai kelestarian alam.
Sebenarnya masih banyak teknologi-teknologi yang digunakan nenek moyang kita yang tidak dituliskan disini. Dari penemuan-penemuan itu sebenarnya sejak dulu bangsa Indonesia sudah mampu menguasai teknologi canggih di zamannya maka tidak pantas lah bila kita menyombongkan diri sebagai generasi sekarang bila kita tidak menghargai dan mengapresiasi leluhur kita.
Nenek moyang kita telah berhasil membangun candi-candi yang sangat indah arsitekturnya dan bertahan ratusan tahun. Nenek moyang kita juga membangun armada laut yang telah mengarungi samudra luas.

Jumat, September 13, 2013 | 0 komentar | Read More

Sejarah kota KAYUAGUNG

Written By Kausarin Amd on Kamis, 29 Maret 2012 | Kamis, Maret 29, 2012


dedijegale.com

 
Kayuagung sebuah kota yang terletak di lintas timur sumatera, Salah satu dari Kabupaten dari Provinsi Sumatera Selatan (Palembang), Kayuagung yang berjarak 65 KM dari pusat kota Palembang, Kayuagung merupakan Daerah Tingkat II di provinsi sumatera selatan. Kayuagung merupakan ibukota Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI).
Kayuagung Terdiri dari 10 kelurahan (Morge Siwe)
  1. Mangujaya
  2. Cintaraja
  3. Jua-jua
  4. Sidakerja
  5. Sukadana
  6. Paku
  7. Kedaton
  8. Kotaraya
  9. Kayuagung Asli
  10. Perigi
Nama Kayuagung secara umum berasal dari sebuah sejarah, dimana pada zaman dahulunya, daerah kota kayuagung terdapat pohon-pohon yang berukuran besar, bahkan ada yang sampai berdiameter 4 meter , kemudian disimpulkanlah oleh para petua Pohon itu berarti Kayusedangkan Besar Itu Agung. mungkin andapun secara tidak sengaja pernah melihat pohon berukuran besar di kota anda, kemungkinannya itu merupakan pohon kayuagung, tapi bukan berarti setiap pohon yang besar itu merupakan pohon kayuagung, ciri khas pohon Kayuagung itu berukuran besar memiliki urat pohon yang timbul dan memiliki akar yang besar dan menjular, selain itu juga terdapat akar yang menjular dari atas kebawah, jadi dari sebuah pohonlah nama dari kota kayuagung itu.

Kayuagung ibukota dari Kabupaten Ogan Komering Ilir merupakan Pemerintah Daerah Tingkat II di Sumatera Selatan yang luasnya sekitar 21.469,90 kilometer persegi yang secara geografis terletak antara 1042'-106 o' derajat Bujur Timur dan 4o 30'-4o 15 derajat Lintang Selatan. jumlah penduduk dalam sensus 2008 mencapai kurang-lebih 55,285 ribu jiwa lebih, mayoritas penduduknya beragama Islam.




APRESIASI TENTANG KAYUAGUNG
Sekitar 5 tahun yang lalu Kayuagung hanyalah kota sederhana, Kayuagung Lebih identik sebagai kota Duta, banyak orang yang berfikir negatif tentang Kayuagung, menyedihkan memang, tapi anggapan orang telah terlanjur terbentuk bahwasanya Kayuagung kota duta, kotanya para penjahat, perampok, dsb, hanya saja untuk kembali membuka pikiran masyarakat umum tentang Kayuagung, saya akan memberikan persentase jumlah penduduk yang berprofesi sebagai Duta di Kayuagung, persentase yang ada hanya 8, 72 % orang pribumi yang berfrofesi sebagai duta.

Duta itu istilah dari penjahat yang melakukan tindakan kriminal (pencurian, perampokan, dll) yang umumnya beraksi di luar negeri ada juga yang di indonesia.

Tapi Bersyukurlah Kayuagung yang sekarang jauh berbeda, anggapan tentang kota penjahat atau duta mulai berganti, kesadaran masyarakat awam yang secara perlahan mampu membuka mata, memanfaatkan peluang yang ada.
tidak hanya semata-mata mengandalkan sertifikat dan ijazah sebagai peluang.

PERBEDAAN 5 TAHUN LALU

Kayuagung sudah menjadi kota yang sedikit lebih maju, Kayuagung yang memiliki kelengkapan yang bisa di katakan standard, pada tahun 2008 telah berdirinya UNISKI (Universitas Islam OKI), Lapangan Olahraga,Rumah Sakit Umum Tingkat NasionalSekolah Menengah Atasyang telah standard NasionalSerta Objek Wisata Teluk Gelam, Peningkatan ekonomi masyarakat jauh lebih baik di banding beberapa tahun lalu, perkembangan Ini pun di manfaatkan oleh beberapa Pengusaha yang menganggap kayuagung berpotensi sebagai peluang usaha.

Pemerintah memperhatikan betul perkembangan di beberapa sektor sesuai program Pemerintah Daerah, mulai dari Sektor Pendidikan,OlahragaKesehatanPertanian dan Sektor Ekonomi , dalam beberapa tahun ini mengalami kemajuan yang pesat dan signifikan, hal itu juga tak lepas dari dukungan masyarakat kayuagung, sekaligus memacu masyarakat untuk melakukan revolusi besar, sebuah perubahan untuk kemajuan bersama, Agar terus dapat terus berkembang menjadi kota yang pantas di banggakan , sayangnnya sedikit terlambat di banding kabupaten-kabupaten lainnya.

KAYUAGUNG MULAI BERBENAH !!!
Kayuagung mulai berbenah di sektor Pendidikan sekarang di kabupaten OKI khusus nya di kayuagung telah memiliki sekolah-sekolah yangstandard nasional, SMP dan SMA yang mampu berprestasi mulai dari tingkat provinsi hingga di tingkat nasional, Pada tahun 2008 telah berdirinya Universitas Islam OKI (UNISKI), serta lembaga-lembaga belajar lainnya, sebut saja, Kursus dan Kuliah Komputer DCC KayuagungAL-IkhlasGilland Ganesha, Taman Belajar English Course, Mitra Global, Serta Bimbingan Belajar.
Kayuagung 
mulai berbenah di sektor Olahraga, sekarang di Kayuagung telah tersedia Lapangan Sepakbola Segitiga Emas lapangan yangmemang belum memiliki kelayakan untuk event daerah, belum adanya tribun seperti layak stadion bola umumnya, Lapangan Futsal OutdoorSederhanaLapangan Badminton IndoorArena lingkar Road Race,serta Lapangan Badminton di Gedung Juang Kayuagungtersedia jugaolahraga Sky Air Di danau Wisata Teluk GelamPerahu Layang,dalam beberapa tahun ini selalu dia adakannya "BUPATI CUP"kompetisi ini untuk memacu dan melihat potensi atlet-atlet di Kayuagung, sekaligus menyalurkan bakat-bakat masyarakat Kayuagung.

Kayuagung 
mulai berbenah di sektor Kesehatansekarang telah berdirinya RSUD dan Puskesmasbertarap Nasional mulai dari Fasilitas Bangunan, Peralatan, hanya saja masih banyak keluhan masayarakat tentang Pelayanan, tapi sedikit lebih baik, walaupun semuanya belum sesuai dengan harapan masyarakat.

Kayuagung mulai berbenah di sektor Ekonomisekarang di Kayuagung jauh lebih baik soal ekonomi, bukan berarti masyarakatnya rata-rata kaya, atau tidak ada masyarakat miskin hanya saja peningkatan ekonomi secara perlahan mulai di rasakan penduduk Kayuagung secara tidak langsung.

Mata pencaharian penduduk Kayuagung umumnya Pegawai,WirausahaPetani disamping sebagai pengrajin pada industri kecil danpertukangan. Kayuagung cukup terkenal dengan kerajinan tanah liat yang memproduksi alat-alat masak.

Kayuagung menjadi salah satu daerah penyuplai terbesar di sektor perkebunan dan pertanian seperti beras, kelapa sawit, karet, untuk mewujudkan "SUMATERA SELATAN SEBAGAI LUMBUNG PANGAN DAN ENERGI".

Semoga dengan blog ini kita mampu memperkenalkan kota Kayuagung, mudah-mudahan menambah wawasan tentang sebuah sejarah tentang Kota Kayuagung, semoga Kayuagung akan jauh lebih baik lagi dari tahun ke tahun.AMIEN
Jangan pernah malu mengatakan onyak jime owam (orang kita), karena seharusnya kita harus bangga menjadi bagian kota kayuagung sebagai rumah tinggal kita tempat kita berpijak.

Untuk Anda yang ingin menyatakan pendapatsaran dan kritik, pengumuman, serta yang berita seputar kota Kayuagung dan OKI, posting komentar anda, agar anda secara tidak langsung anda ikut berpatisipasi Membangun dan Memajukan Kayuagung Kabupaten Ogan Komering Ilir, insyallah mendapat tanggapan dan perhatian dari pemerintahan kabupaten OKI khususnya Kayuagung.

Odang Lupe Posting Comment ne go ( Jangan Lupa Posting Komentarnya Ya)
Kamis, Maret 29, 2012 | 2 komentar | Read More

Kawin lari (SETAKATAN) adat kayuagung

Written By Kausarin Amd on Rabu, 28 Maret 2012 | Rabu, Maret 28, 2012


dedijegale.com

 
Kawin lari (SETAKATAN)  identik dengan suatu hal negatif yang ada pada masyarakat... pada artikel ini ane mau meluruskan padangan yang salah tentang apa itu kawin lari khususnya manurut pandangan masyarakat suku Lampung Pubian...
Larian (kawin lari) merupakan perkawinan yang dilakukan oleh seorang Muanai (bujang) dan seorang muali (gadis) dimana sang muanai membawa terlebih dahulu si mauli sebelum adanya akad nikah... tentunya hal ini telah dibicarakan dan direncanakan terlebih dahulu, bukan secara spontan/dadakan... keluarga dari pihak muli tentunya juga telah mengetahui atau telah setuju, memang biasnya tidak seluruh anggota keluarga dan kelompok adat tau tentang rencana tersebut,, bila seandainya keluarga besar dan kelompok adat sudah tau,,, buat apa Larian...
Sebelumnya, pemikiran ane pun sama negatifnya dengan pemikiran sobat2 lain... tetapi setelah ane mendengar penjelasan langsung,, ane dapat mengerti mana yang bisa disebutkan sebagai adat dan mana yang merupakan perbuatan yang melanggar hukum???
Menurut buku yang ane baca ada syarat2 yaitu:
  1. Muli yang dilarikan oleh mekhanai, wajib menaruh surat yang ditulis dan ditanda tangani oleh muli itu sendiri. Isi surat harus jelas, menerangkan bahwa mekhanai yang membawanya benama ... bin ... dan berasal dari kampung/daerah mana, serta meninggalkan sejumlah uang???
  2. Seandainya mekhanai yang membawanya adalah berasal dari kelompok Lampung Pepadun, maka keluarga yang bertanggung jawab pada pihak muli wajib mengadakan dan mengundang keluarga besar, kelompok adat, sesepuh adat, dan orang2 terdekat untuk bermusyawarah (ngukhaw muakhian),, dan di dalam musyawarah,, keluarga si muli meminta maaf atas kesalahan karena keluarga/muli tidak ada pemberitahuan sebelumnya... Tetapi apabila mekhanai tidak berasal dari kelompok Lampung Pepadun maka ngukhaw muakhian tidak wajib dilaksanakan,, apabila dilaksanakan maka itu merupakan kebijaksanaan yang terpuji.
  3. Seandainya mekhanai yang membawanya adalah berasal dari kelompok Lampung Pepadun, maka keluarga yang bertanggung jawab pada pihak mekhanai wajib mengadakan dan mengundang keluarga besar, kelompok adat, sesepuh adat, dan orang2 terdekat untuk bermusyawarah (ngukhaw muakhian),, dan di dalam musyawarah,, keluarga si mekhanai juga meminta maaf atas kesalahan karena keluarga/mekhanai tidak ada pemberitahuan sebelumnya... Tetapi apabila mekhanai tidak berasal dari kelompok Lampung Pepadun maka ngukhaw muakhian tidak wajib dilaksanakan,, apabila dilaksanakan maka itu merupakan kebijaksanaan yang terpuji. Selain itu keluarga mekhanai pun wajib menyelesaikan masalah atau melaksanakan acara ngantak salah (meminta maaf kepada keluarga pihak muli) 
  4. Bila ketentuan-ketentuan pada point-poit diatas tidak deberlakukan atau tidak dilaksanakan,, maka akan ada tindakan-tindakan lain yang menanti?? Berupa hukuman denda.


Rabu, Maret 28, 2012 | 0 komentar | Read More

Kolase

Kolase